Tuhan,
Jujur saja, kadang aku iri melihat mereka yang memiliki keluarga yang utuh. Aku iri melihat mereka yang dapat berkumpul bersama ayah dan ibu mereka dengan penuh kasih sayang.
Tuhan,
Bukan aku tidak bersyukur atas semua nikmat yang engkau berikan untuk ku saat ini. Sungguh Tuhan, bukannya aku tidak bersyukur. Terimakasih, terimakasih atas semua nikmat yang telah Engkau berikan untuk ku. Terimakasih telah mengirim mamak dan bapak sebagai kakek dan nenek ku yang selalu memberikan kasih sayang dan semua kebutuhan ku. Terimakasih Tuhan, mereka lebih dari segalanya untuk ku.
Tapi, tidak ada salahnya bukan jika aku berkhayal membayangkan kehangatan sebuah rumah yang ku tinggali bersama ibu dan bapak.
Tuhan, perih sekali ketika aku mengetahui semua ini. Tapi apa yang bisa ku lakukan Tuhan? Semuanya telah terjadi, bahkan sebelum aku dilahirkan di dunia ini. Dan ini juga sudah termasuk dalam rencana Mu.
Tuhan,
Izinkan aku berjanji pada hati ku
Izinkan aku berjanji pada jiwa ku
Izinkan aku berjanji pada raga ku
Izinkan aku berjanji pada hembusan angin yang selama ini membuat kesejukan untuk ku.
Izinkan aku berjanji pada bintang-bintang yang selalu meramaikan kehidupan ku.
izinkan aku berjanji pada birunya langit dan pekatnya langit dikala malam yang menjadi saksi setiap ucapan ku.
Dan izinkan aku berjanji pada setiap tetesan hujan yang selalu menjadi saksi saksi atas tawa dan airmata ku.
Kelak, ketika aku berumah tangga
Anak-anak ku tidak akan pernah ku biarkan merasakan sakitnya merindukan ayah dan ibunya.
Kelak, tak kan ku biarkan anak-anak ku melihat ibu dan ayahnya bertengkar.
Kelak, takkan ku biarkan anak-anak ku merasakan perihnya ketika mengetahu ibu dan ayahnya tak lagi bersama.
Kelak, takkan ku biarkan anak-anak ku memiliki dua orang ibu ataupun dua orang ayah.
Dan untuk laki-laki yang akan menjadi imam ku.
Kelak, takkan ku biarkan kau tidur dalam keadaan lapar.
Kelak, takkan ku biarkan kau cemas akan keadaan ku yang keluar tanpa izin dari mu.
Kelak, ketika kau pulang dari kerja, aku akan selalu menunggu didepan pintu dengan senyuman ku yang tidak terlalu mengindahkan, namun ku rasa cukup untuk menghilangkan sedikit rasa lelah mu.
Kelak, ketika kita telah berumah tangga dan memiliki beberapa anak yang lucu dan menggemaskan, aku akan mengasuh mereka dengan ikhlas, dengan penuh kasih sayang dan rasa tanggung jawab.
Kelak, ketika kau ingin ku temani, kan ku temani engkau kemana pun engkau mau.
Kelak, ketika kita telah berumah tangga kan ku berikan semua yang terbaik untuk mu wahai calon suami ku.
Tuhan, kirimkan lah satu laki-laki yang mampu menyayangi ku
Bukan karna fisikku ataupun karena semua kelebihan ku.
Tuhan, kirimkanlah satu laki-laki yang mampu membimbing ku dan mengarahkan ku menuju kejalan Mu dan membawa ku kepada jannah Mu.
Tuhan, kirimkan lah satu laki-laki yang bersedia menemaniku bagaimana pun kondisi ku kelak.
Tuhan, kirimkanlah satu laki-laki yang mampu bertanggung jawab atas diri ku dan keluarga kecil kami kelak.
Tuhan, kirimkan lah satu laki-laki yang benar-benar menyayangi dan mencintai karena-Mu.
Tuhan, saat ini kau telah memperkenalku pada sesosok laki-laki yang ku yakin mampu menjadi imam ku kelak.
Sesosok laki-laki yang ku yakin mampu membimbingku menuju jannah-Mu.
Sesosok laki-laki yang ku yakin bahwa ia bertanggung jawab.
Sesosok laki-laki yang mau menerima semua kekurangan ku.
Sesosok laki-laki yang ku yakin tak akan mengecewakan ku.
Tuhan,
Ku harap memang dialah yang Kau takdirkan untuk ku.
Ku harap memang benar dialah yang akan menjadi imam ku.
Engkau pemilik skenario terbaik ya Tuhan ku...
Dan buatlah cerita dengan akhir yang indah untuk keluarga ku kelak ya Tuhan ku...
Wednesday, May 11, 2016
Sebuah Harapan dan Sebuah Keyakinan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment